Fakta Penghasilan Debt Collector per Bulan, Sering Tarik Motor dan Mobil Kredit

Penarikan kendaraan kredit yang menunggak cicilan kerap memicu konflik di jalan. Aksi debt collector atau yang dikenal sebagai mata elang ini sering mendapat sorotan publik, terutama ketika berujung keributan. Namun di balik stigma tersebut, banyak yang belum mengetahui bagaimana sistem kerja hingga besaran penghasilan debt collector per bulan.

Debt Collector Resmi Wajib Bernaung di Perusahaan Legal

Debt collector resmi tidak bisa bekerja secara sembarangan. Mereka harus berada di bawah naungan perusahaan berbadan hukum yang bermitra langsung dengan perusahaan pembiayaan atau leasing.

Salah satu mata elang berpengalaman, Alex (bukan nama sebenarnya), menjelaskan bahwa aktivitas penarikan kendaraan dilakukan secara legal dan terikat aturan. “Kami bekerja di lapangan tapi bernaung di bawah PT yang punya kerja sama resmi dengan leasing. Jadi bukan perorangan,” ujar Alex.

Menurutnya, sistem ini diterapkan untuk menekan risiko konflik dan memastikan proses penagihan berjalan sesuai prosedur.

Profesi Mata Elang Kini Wajib Sertifikasi Resmi

Alex mengungkapkan, dulu profesi mata elang belum sepenuhnya diatur. Namun seiring banyaknya insiden di lapangan, perusahaan pembiayaan kini mewajibkan seluruh debt collector berada di bawah perusahaan resmi.

Dengan status tersebut, para mata elang tidak bisa bertindak semena-mena. Mereka terikat kontrak kerja sama dan harus mematuhi standar operasional prosedur (SOP).

Salah satu syarat utama menjadi debt collector resmi adalah memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA) aktif.

Tak hanya itu, calon mata elang juga wajib mengantongi Sertifikasi Profesi Pembiayaan Indonesia (SPPI). “SPPI itu diterbitkan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi di bawah APPI. Tanpa itu, tidak bisa turun ke lapangan,” jelas Alex.

Proses Sertifikasi Debt Collector Tidak Mudah

Untuk mendapatkan sertifikat SPPI, calon debt collector harus mengikuti ujian daring dengan tingkat kesulitan tinggi. Materi ujian mencakup tata cara penagihan yang benar, etika berinteraksi dengan debitur, cara menyampaikan tujuan, hingga sikap profesional saat bertugas.

Selain itu, peserta juga harus menyiapkan biaya sertifikasi berkisar antara Rp300 ribu hingga Rp500 ribu. “Sekarang hampir tidak ada mata elang yang tidak punya KTA dan SPPI. Itu sudah jadi syarat mutlak,” tegas Alex.

Sertifikasi ini menjadi jaminan bagi perusahaan leasing bahwa debt collector bekerja sesuai aturan dan tidak menggunakan kekerasan.

Berapa Penghasilan Debt Collector per Bulan?

Meski bernaung di perusahaan resmi, para mata elang tidak menerima gaji tetap bulanan seperti karyawan kantoran. Sistem kerja mereka bersifat freelance berbasis komisi. “Kami tidak digaji bulanan. Penghasilan tergantung dari kendaraan yang berhasil ditarik, ada sistem fee,” ungkap Alex.

Besaran fee berbeda-beda tergantung kebijakan masing-masing perusahaan leasing. Namun secara umum, satu unit sepeda motor bisa menghasilkan Rp1 juta hingga Rp1,5 juta.

Dalam sebulan, Alex mengaku mampu menangani sekitar lima hingga 10 unit kendaraan bermasalah. Namun pendapatan tersebut masih harus dibagi dengan anggota tim karena penarikan dilakukan secara berkelompok.

Profesi Debt Collector Dipotong Pajak

Alex menegaskan bahwa profesi debt collector bukan pekerjaan ilegal. Setiap fee yang diterima akan dikenakan potongan pajak sebesar dua persen, sebagai bukti aktivitas mereka tercatat secara resmi.

Dengan sistem yang semakin tertata, profesi mata elang kini berada di bawah pengawasan ketat, baik dari perusahaan pembiayaan maupun regulator, guna memastikan proses penagihan berjalan profesional dan sesuai hukum.

Comments

Popular posts from this blog

Penerapan Data Analitik Strategis Mampu Menjawab Tantangan Pasar yang Dinamis

Peran Antioksidan Dalam Kopi Untuk Mencegah Penyakit Kronis